MENJELANG berakhirnya putaran pertama Liga Super Indonesia (LSI) 2008/2009, merosotnya produktivitas gol menjadi sorotan tajam bagi skuad "Maung Bandung". Gerah dengan kondisi ini, striker Christian Gonzalez pun didatangkan manajemen Persib sebagai solusi.
Walaupun sempat menimbulkan sedikit riak di tubuh Persib, merapatnya Gonzalez menjadi oase di tengah gersangnya produktivitas gol kala itu. Perbendaharaan gol Persib pun naik hingga 2,42 kali lipat dibanding akhir putaran pertama atau bertambah 37 menjadi 63 gol.
Dari jumlah tersebut, 14 gol di antaranya disumbangkan Gonzalez. Ia pun kembali dinobatkan menjadi top scorer Liga Indonesia untuk keempat kalinya. Bedanya, musim ini ia harus berbagi gelar dengan striker Persipura, Boas Salosa, yang sama-sama mengoleksi total 28 gol.
Sepanjang putaran kedua, pemain yang kerap disapa "El Loco" itu menjadi lumbung gol bagi Persib. Bahkan, ia sempat mencetak hingga tiga gol dalam satu pertandingan, saat Persib mencukur Deltras 6-1. Itu adalah kemenangan terbesar Persib sepanjang LSI, setelah pada awal putaran pertama lalu mencukur Persela 5-2.
Kendati demikian, untuk keseluruhan musim, nama Hilton Moreira yang bergabung satu putaran lebih awal belum tergeser. Ia masih menjadi penyumbang gol terbanyak bagi Persib, dengan koleksi 15 gol. Posisi ketiga diisi Rafael Alves Bastos yang sepanjang putaran pertama menjadi langganan starter di lini depan. Total ia mengoleksi sepuluh gol.
Uniknya, walaupun Persib memiliki total lima striker, penyumbang gol terbanyak keempat justru ditempati seorang gelandang. Dia adalah Lorenzo Cabanas dengan koleksi enam gol. Striker muda yang kerap menjadi pilihan utama sebagai lapis kedua, Airlangga, hanya mengemas tiga gol di ajang LSI. Namun, gol Airlangga terjadi pada saat laga krusial. Jumlah yang sama disumbangkan Eka Ramdani bagi Persib.
Striker Persib lainnya, Zaenal Arif, bahkan hanya sanggup mencetak dua gol musim ini. Namanya sejajar dengan stopper Nyeck Nyobe George Clement, Nova Arianto, dan gelandang Atep, yang juga mengemas dua gol sepanjang musim. Tiga pemain lainnya, Gilang Angga, Salim Alaydrus, dan Siswanto, masing-masing menyumbangkan satu gol.
Sayang, impuls positif kehadiran Gonzalez terhadap ketajaman ujung panah Persib tidak diikuti peningkatan kinerja lini belakang. Walaupun rentang selisih gol jauh lebih besar dibanding dengan akhir putaran pertama lalu, secara persentase kebobolan Persib naik hingga 150 persen.
Jika hingga pertengahan November atau putaran I, gawang Persib kebobolan 16 gol, akhir musim ini jumlahnya naik hingga 40. Goyahnya pertahanan lini belakang Persib sangat kental terasa pada awal hingga pertengahan putaran kedua. Lemahnya lini belakang kerap menjadi headline di sejumlah pemberitaan media massa.
Walaupun gagal menjadi runner-up LSI karena kalah dua gol dari Persiwa, koleksi gol Persib musim ini mengantarkan Eka Ramdani dkk. ke peringkat kedua klub yang melesakkan gol terbanyak, terpaut 18 gol dari Persipura. Sementara dari segi jumlah kebobolan, Persib menempati peringkat kelima, diurut berdasarkan jumlah kemasukan terkecil. Peringkat pertama sampai keempat diisi Persipura, Persiwa, Persela, dan Pelita Jaya, secara berurut.
Berbeda dengan musim lalu, distribusi gol Persib sepanjang pertandingan musim ini nyaris merata. Distribusi gol Persib yang terjadi pada menit pertama sampai 23 mencapai 29 persen, menit ke-24 sampai turun minum 21 persen, paruh pertama dan kedua babak kedua sama-sama 25 persen.
Kondisi nyaris serupa juga mewarnai peta distribusi kebobolan gawang Persib walaupun potensi babak kedua bisa dikatakan lebih besar. Pada menit pertama sampai 23, persentase kebobolan hanya 20 persen. Angka tersebut naik menjadi 25 persen pada paruh kedua babak pertama. Persentasenya terus naik menjadi 27 persen pada paruh pertama babak kedua dan 28 persen pada 22 menit terakhir. (Rika Rachmawati/"PR"/Vetriciawizach/Pusat Data Redaksi/"PR") ***
Sumberna :
newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php...adetail&id=81412