BANDUNG, (PR).-
Persib dapat menggunakan minimnya anggaran untuk kompetisi musim 2009-2010, sebagai momentum untuk menurunkan pemain-pemain muda dari yang magang dan Persib U-21. Namun, baik manajemen maupun bobotoh harus rela menyimpan ambisi juara karena diperlukan waktu minimal dua tahun untuk membina "Maung Muda" menjadi pemain senior yang bertaring.
Mantan pemain Persib Sutiono Lamso saat dihubungi "PR", Senin (15/6) malam mengatakan, minimnya dana akan sangat berpengaruh terhadap belanja pemain untuk kompetisi musim depan. Jika tahun 2008-2009 Persib dimanjakan dengan sejumlah pemain nasional selevel Maman Abdurahman dan Eka Ramdani, serta pemain asing sekelas Lorenzo Cabanas dan Christian Gonzalez dengan nilai kontrak di atas Rp 500 juta, maka tahun depan, manajemen harus mengencangkan ikat pinggang demi penghematan.
"Melihat kondisi tim dan pendanaan, target realistis untuk mengejar gelar juara ya tahun ini tetapi itu kan meleset. Makanya, kita harus mulai membidik strategi lain pada musim berikutnya," ungkapnya.
Selain rasionalisasi nilai kontrak pemain, mantan striker Persib ini juga melirik pemain-pemain Persib U-21 yang dinilainya sangat potensial. Secara fisik dan teknik permainan, Rudi Giovani dkk. sudah dapat disandingkan dengan senior-seniornya. Salah satu buktinya adalah keberhasilan "Maung Muda" menempati posisi ketiga Liga Super Indonesia (LSI) U-21 2008. Sutiono bahkan berani menilai bahwa sejumlah pemain U-21 terbaik di Indonesia berada di Persib. Begitu juga pemain magang, ada Jejen, Wahyu Kopriana, Rahmat Taufik, yang kemampuannya terasah selama ikut latihan dengan Persib senior.
Namun, pencetak gol tunggal kemenangan Persib pada final Liga Indonesia I 1994-1995 ini tidak memungkiri adanya cacat yang dimiliki para pemain muda. Mereka memang unggul dalam hal fisik dan teknik, namun kalah dalam hal pengalaman bertanding. Ini membuat mental para pemain muda di lapangan belum teruji.
"Jam terbang mereka di kompetisi selevel liga itu pastinya masih sangat kurang sehingga diperlukan waktu dan persiapan yang cukup lama untuk membuat mereka menjadi pemain yang dewasa," katanya.
Jika Persib ingin memberdayakan para pemain muda, dia harus berani memberikan kepercayaan kepada mereka untuk bermain dalam kompetisi senior. Ini akan menjadi motivasi sekaligus saluran yang sangat tepat untuk pertumbuhan mental pemain muda.
Pada LSI 2008, pelatih Jaya Hartono beberapa kali memercayakan pertahanan lini belakang kepada pemain muda Wildansyah. Edi Hafid Murtado yang juga jebolan diklat Persib sempat merasakan ganasnya lapangan LSI 2008 sebagai stopper. Kemudian ada Irwan Wijasmara dan Chandra Yusuf.
Namun, kesempatan yang diberikan itu masih sangat terbatas. Padahal, jika diberikan kesempatan, bukan tidak mungkin para pemain muda itu menjadi simpul kekuatan baru klub. Lihat saja Yongki Aryawan yang tampil sebagai striker Persik Kediri. Kondisi fisik yang prima serta pergerakannya yang dinamis, seperti memberikan napas baru bagi tim besutan Aji Santoso itu.
"Konsekuensi logis setelah menjatuhkan pilihan kepada pemain muda, kita tidak bisa menargetkan gelar juara pada musim depan. Dua atau tiga tahun ini kita menabung untuk pembinaan dan hasilnya akan kita panen tiga tahun ke depan. Kita punya stok pemain senior potensial yang melimpah dan siap merebut gelar juara," tuturnya. (A-180)***
Sumberna :
newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php...adetail&id=81413